Tak mudah menjelaskan  tentang konsep perseraian atau perpisahan pada si kecil. Naik turunnya emosi orang tua selama proses perceraian berlangsung, sangat mungkin mengakibatkan trauma batin pada si kecil. Mama yang biasanya lembut dan penuh senyum, tiba-tiba saja selalu murung dan kerap memarahinya. Apalagi kalau si kecil juga harus menghadapi serangkaian perubahan dalam kebiasaan sehari-hari. Misal, tak lagi diantar papa ke sekolah, atau bahkan tak bertemu papa selama berminggu-minggu. Ia bisa semakin bingung dan bertanya-tanya ada apa sebenarnya yang terjadi. Menghadapi situasi seperti ini, Anda tak boleh tinggal diam. Mengabaikan si kecil dengan alasan bahwa dirinya masih kecil dan tak perlu tahu tentang perpisahan, tentu saja bukan jalan yang terbaik. Bimbing mereka untuk melalui masa-masa sulit ini agar perpisahan Anda dan pasangan tak memberik dampak buruk padanya di  kemudian hari. Psikolog anak, Ian Wallace, yang sekaligus penulis buku “The Top 100 Dreams, The Dreams That We All Have and What They All Have and What They Really Mean” berbagi tips cara mengurangi stress pada anak pasca perpicahan mama dan papanya. Berikut ini tipsanda.com akan merangkum bagaimana tips bersikap secara teapt kepada anak pasca perceraian orang tua:

1. Lakukan: Diskusi Singkat dan Jelas. Hindari: penggunaan bahasa yang rumit dan penjelasan yang penuh emosi. Balita hanya bisa memahami penjelasan yang pendek dan jelas, terutama saat ia sedang emosi. Jadi usahakan untuk menjelaskan semua yang terjadi denga singkat dan hindari menggunaan bahasa yang rumit, seperti ”Sudah tidak ada kecocokan di antara mama dan papa.” Seringkali anak lebih mudah memahami gambar atau foto daripada mendengarkan kata-kata, sehingga tak ada salahnya jika Anda memperlihatkan gambar anak yang sedang bermain hany bersama dengan papa atau mamanya saja. Katakan bahwa seperti itulah kira-kira gambaran situasi yang akan dihadapinya nanti.

2. Lakukan: Stop Bersikap Dramatis si Depan Anak. Hindari: Mengabaikan Kebutuhan Anda. Bersedih pasca perpisahan adalah hal yang sangat wajar. Tapi buatkan agar kesedihan Anda tidak kut dirasakan atau didengar oleh si kecil. Ia biasanya mencuri dengar percakapan Anda dengan  teman saat Anda curhat lewat telepon , atau melihat Anda menangis. Jika ia bertanya, hindari berkeluh kesah kepadanya. Cukup katakana bahwa Anda merindukan papanya, tapi Anda akan baik-baik saja. Bagaiamanapun jika kesedihan Anda tak tertahankan? Anda juga harus memperhatikan kebutuhan pribadi Anda. Berarti, itu saatnya Anda menghubungi keluarga, teman atau psikolog untuk meminta bantuan yang lebih serius.

3. Lakukan: Jujurlah! Hindari: Mengarang Cerita Untuk Mengalihkan Perhatiannya. Berkata jujur apa adanya merupakah langkah paling penting saat Anda mulai memperkenalkan proses perpisahan pada anak-anak. Hindari mengarang cerita seperti, “Papa sedang pergi berlibur,” atau “Pada harus kerja di luar kota dalam jangka waktu lama.” Jangan pula menyebutkan hal-hal yang kedengarannya mustahil, seperti, “Saat ini mama harus menjaga nenek yang sedang sakit” untuk menjelaskan kepergian Anda dari rumah. Si kecil sudah cukup bingung dan stress, dan ditambah lagi usianya yang belum cukup matang untuk mengerti arti dari berbagai perubahan yang terjadi di sekitarnya. Untuk memahami ini semua si kecil sangt bergantung pada keterbukaan Anda. Anda harus menjelaskan hal-hal yang mungkin terjadi di bulan-bulan mendatang (meskipun itu bukan hal yang menyenangkan), seperti “Mulai saat ini, mama dan papa tidak tinggal satu rumah lagi…Kamu tinggal bersama mama tapi kamu tetap bisa bermain sama papa setiap akhir pecan.”

4. Lakukan: Diskusi tenang Dengan Memanfaatkan Pihak Ketiga. Hindari: Berselisih Pendapat di depan Anak. Sebuah penelitian menemukan fakta bahwa anak-anak yang pernah melewati masa-masa sulit akibat perceraian orangtuanya, akan lebih sering berkata, “Saya tidak suka melihat papa dan mama bertengkar.” Anak-anak ini sebenanrya berharap orangtua mereka tidak pernah berselisih pendapat, terutama setelah akhirnya mereka berpisah. Meski mungkin ada pembenaran untuk menyalahkan mantan pasangan, bertengkar di  depan anak hanya akan membuat anak semakin stress. Jika Anda masih punya masalah segera selesaikan . Jika perlu, cari bantuan professional seperti psikolog atau penasihat perkawinan untuk membantu Anda berdua mencapai tujuan secara damai.

5. Lakukan: Jaga agar keseharian si kecil tetap seperti semula. Hindari: Memindahkan ia dari sekolahnya atau memutus tali silaturami dengan keluarga mantan pasangan. Perubahan rutinitas paska perpisahan sudah cukup membuat si kecil teranca kestabilan dan kemapanan emosinya. Jadi, jagalah agar tidak ada yang berubah dari rutinitasnya sehari-hari. Hal ini akan membuatnya yakin bahwa banyak hal baik dalam hidupnya yang akan tetap sama meski papa dan mamanya berpisah. Penelitian telah membuktikan bahwa semakin mantap keyakinan anak menjalani kesehariannya, semakin kecil pula efek trauma terhadap perceraian. Meskipun harus berpindah rumah, usahakan agar anak tetap pergi ke sekolah yang lama, dan bertemu dengan teman-teman yang sama. Meski Anda sudah tidak menyukai pasangan, si kecil kemungkinan besar masih ingin berhubungan dengannya, atau dengan kakek dan nenek dari pihak mantan pasangan. Mau tak mau, Anda harus menjaga hubungna baik dengan mantan pasangan dan keluarganya. Jangan korbankan kepentingan anak hanya karena kebencian Anda. Bagaimanapun, kebutuhan anak adalah yang paling penting.

6. Lakukan: Katakan dengan jelas bahwa Anda tetap mencintainya. Hindari: Menyalahkan mantan pasangan. Empati yang belum terbangun sempurna dalam diri balita memungkinkan ia salah paham saat menerima penjelasan dari Anda. Buan tak mungkin ia merasa bahwa perpisahan Anda dan papanya/mamanya akan membuat ia kehilangan kasih sayang dari Anda berdua. Karena itu, Anda eprlu meyakinkan bahwa Anda dan papanya tetap mencintainya tanpa syarat, dan akan begitu seterusnya. Satu hal yang perlu Anda ingat, jangan sekali-kali menyalahkan mantan pasangan di depan anak karena hanya akan membuat anak meragukan cinta mantan pasangan Anda kepadanya. Ia juga bisa menyimpulkan bahwa Anda pun marah dan kecewa padanya, dan kemudian menganggap bahwa dirinyalah yang menjadi penyebab kekacauan ini. Ingat, sebesar apapun kemarahan Anda, si kecil tidak boleh dilibatkan dapam perdebatan sial siap yang salah dan siapa yang benar dalam perceraian.



Related Post


  • Tips Mempersiapkan Perceraian
  • Tips Membuat Biaya Proses Perceraian Jadi Murah
  • Tips Tepat Merawat Rambut Pasca Rebonding
  • Tips Menjadi Anak Broken Home Yang Baik
  • Tips Tepat Mengenalkan Pendidikan Seks Pada Anak

  • Anda Ingin Berlangganan Free-Artikel Dari Tipsanda.com?
    Daftarkan e-mail Anda di bawah ini dan pastikan verifikasi melalui email Anda:

    Delivered by FeedBurner