Bagi anak sekolah, akhir tahun ajaran boleh jadi merupakan penantian yang paling menegangkan. Apalagi kaitannya kalau bukan dengan soal naik atau tidak naik ke kelas selanjutnya. Ceti Prameswari, Psi., dari lembaga Psikologi Terapan UI menambahkan, “Sebenarnya yang paling ditakutkan adalah konsekuensi yang mereka terima karena tidak naik kelas. Seperti dimarahi,/dihukum orang tua ataupun dihujani ejekan oleh lingkungan“. Tentu saja porsi ketakutan ini tidak aka sama pada setiap anak. Semua terpulang pada pengalaman dan pengamatan si anak. Namun jika masih bisa menangis atau melamun, tandanya anak masih punya kesadaran apa artinya prestasi. Berikut ini Tips bijak mengatasi anak yang tidak naik kelas:

1. Pindah Sekolah. Evaluasi kembali apa penyebab anak tidak naik kelas. Kalau memang pengaruh lingkungan di sekolah lama sangat buruk, sebaiknya anak memang pindah sekolah saja. Akan tetapi bukan dengan menaikkan ke kelas berikutnya alias dikatrol yang sama saja tidak mendidik anak.

2. Genjot Semangat Belajar. Cari tahu dulu akar penyebabnya mengapa anak tidak naik kelas. Apakah karena faktor kecerdasan anak yang memang kurang, kondisi fisiologis (semisal anak punya penyakit tertentu yang terbilang berat), pola pengajaran guru, atau pola pengasuhan orang tua (seperti kelewat otoriter atau malah terlalu cuek). Boleh saja anak diikutkan les ini-itu asalkan memang itu menjadi kebutuhannya untuk meningkatkan kemampuan akademis.

3. Periksa ke ahlinya. Yang dimaksud, dokter atau psikolog. Anak tidak naik kelas bisa karena faktor kecerdasannya, kondisi fisik, kematangan emosi maupun pengaruh lingkungan. Sebaiknya konsultasikan dulu ke psikolog untuk melihat taraf kecerdasan dan kematangan emosionalnya. Hasil pemeriksaan psikolog ini dapat menjadi acuan bagi orang tua untuk melakukan intervensi. Misalnya, penanganan terhadap anak under-achiever (IQ bagus tapi prestasi buruk) tentu akan berbeda dengan anak yang mengalami ADHD. Sementara konsultasi ke dokter diperlukan jika pemeriksaan psikologis ditemukan ada indikasi masalah neurologis, psikomotorik atau kumpulan gejala fisik lainnya. Kalau orang tua berhasil menemukan akar permasalah anak, penanganan terhadap anak jadi bisa lebih tepat sasaran sehingga presetasinya bisa diharapkan lebih baik.

4. Diskusi Dengan Guru. Meminta guru untuk memberi kesempatan kepada anak untuk duduk di kelas yang lebih tinggi, sebaiknya tidak dilakukan. Jika kemampuan anak memang terbatas tapi tetap dipaksakan untuk naik kelas, bisa-bisa anak kian tertekan sementara prestasinya tetap tidak membaik.

5. Menyusun Kembali Jadwal Harian Anak. Contohnya, main play station, sepedaan dan nonton TV dikurangi. Untuk kasus tinggal kelas, mengurangi kesenangan bisa saja dilakukan. Namun ada yang mesti diperhatikan, yakni tidak memberikan hukuman fisik, dan pembenahan jadwal harus disertai dengan penjelasan logis, dan harus ada batas waktunya. Berikan reward begitu anak melakukan hal-hal yang sesuai harapan Anda.



Related Post


  • Tips Bijak Berkendara Bersama Anak
  • Tips Bijak Mengatasi Sifat Sombong Pada Anak
  • Tips Mengatasi Demam Pada Anak
  • Tips Menanggulangi Rasa Takut Si Kecil
  • Tips Mengasah Keberanian Berpendapat Pd Anak

  • Anda Ingin Berlangganan Free-Artikel Dari Tipsanda.com?
    Daftarkan e-mail Anda di bawah ini dan pastikan verifikasi melalui email Anda:

    Delivered by FeedBurner